“Program sertifikasi ini untuk memastikan rantai pasok kakao mulai dari petani yang menjual ke agen kami, agen menjual ke PT HBRM, lalu HBRM menjual ke Guan Chong Berhad (GCB) di Batam, lalu di Batam diolah menjadi menjadi tepung, lalu dijual lagi ke Mars di Singapura, nanti diimpor lagi ke dalam negeri dalam bentuk coklat jadi yang sudah bisa kita konsumsi. Sertifikasi untuk bagaimana kita mewujudkan standar mutu RA ini,” ungkap Ahyar.
Prospek kakao ke depan di Aceh Timur, jelas Ahyar sangat menjanjikan seiring besarnya permintaan kakao dunia, akibat Afrika sudah mulai konversi Kakao, sehingga prospek harga kini terus menjanjikan.
Untuk mewujudkan standar mutu, jelas Ahyar, perusahaan HBRM menjalankan dua aspek, pertama PT HBRM memperbaiki rantai pasok pembelian ditingkat agen, sementara HBRM melalui FKL memperbaiki tata kelola perawatan kebun.
“PT HBRM memperbaiki sistem pembelian di tingkat Agen, sementara FKL melalui (perusahaan Saman Seudati Lestari) memperbaiki tata kelola perkebunan petani agar semua sinkronisasi melalui program sertifikasi ini,” jelasnya.
Hal penting dari standar mutu RA ini, jelas Ahyar, bahwa perusahaan diperbolehkan mengekspor Kakao ke luar negeri yaitu lahan petani bukan dari kawasan hutan, tidak menggunakan racun kontak, karena racun kontak dapat meresap ke biji yang dapat memicu kanker, tidak mempekerjakan anak dibawah umur, dan sejumlah persyaratan lainnya.
Harmaini Manager pendamping Kakao Aceh Hebat dari FKL (perusahaan Saman Seudati Lestari) mengatakan SSL ini adalah wadah bagi petani atau calon petani sertifikasi.
halaman selanjutnya >>>